Selasa, 06 Maret 2012

OPINI PILKADA DAN FENOMENA GOLPUT


PILKADA DAN FENOMENA GOLPUT
(TELAAH KRITIS TERHADAP PILKADA FLORES TIMUR)

Oleh :
Amin Tahir *)
DSCF1378
Pemilihan Langsung Kepala Daerah Kabupaten Flores Timur yang direncanakan pada bulan Juni 2010 mendatang sangat diharapkan berjalan dengan sehat dan harmonis. Jika dicermati pada kampanye-kampanye sebelumnya selalu diwarnai dengan konflik serta kekerasan politik yang melibatkan banyak pihak, namun mudah dilihat, tingkat eskalasinya telah menurun secara signifikan ketika PILKADA kali ini.
Kekerasan politik, seperti perusakan atribut partai, bentrok massa kampanye, aksi kekerasan di belakang layar televisi, adalah contoh yang paling mudah diamati. Menurunnya tingkat kekerasan politik, di satu sisi, dapat dimengerti sebagai meningkatnya kearifan serta rasionalitas berpolitik bangsa kita. Ini jelas perlu disambut baik. Namun, di sisi lain, kita tentu saja khawatir jika masyarakat ternyata mulai apatis dengan situasi politik yang berkembang. Salah satu bukti yang paling mudah dicermati, selain menurunnya tingkat kekerasan politik, yakni menurunnya massa kampanye hampir semua partai.
Dengan melihat apatisme masyarakat terhadap Pemilihan Langsung Kepala Daerah (PILKADA) Bupati Flores Timur kali ini, kita tentu saja tidak bisa menilai penurunan kekerasan politik sebagai bukti meningkatnya kedewasaan politik bangsa kita. Justru belakangan ini dapat dilihat, kekerasan dan ketidakdewasaan berpolitik hadir dalam bentuk berbeda, beragam dan semakin unik. Buktinya, hampir tidak bisa ditemukan kampanye yang murni tidak membangkitkan emosi massa pendukungnya. Dalam setiap kampanye, upaya menghipnotis massa adalah jalan yang agaknya harus ditempuh. Karena hanya dengan cara itu, massa akan lebih mudah tergerak untuk memilih seorang figur calon Kepala Daerah.
Banyak hal yang dapat dipelajari dibalik serangkaian fenomena itu. Pertama, masyarakat akar rumput, yang menjadi lahan empuk untuk menggaet massa, berkarakter emosional dan mudah terprovokasi oleh isu-isu politik yang berkembang. Di saat bangsa ini bercita-cita menegakkan tonggak demokrasi, hal ini jelas menjadi batu sandungan yang amat mengkhawatirkan. Demokrasi meniscayakan lahirnya kekuatan civil society yang ditandai dengan partisipasi dominan dari masyarakat sipil secara keseluruhan. Namun, apa jadinya jika sebagian besar masyarakat kita masih menggunakan cara pandang yang emosional, irasional dan tidak didasarkan pada kerangka berfikir yang matang dan rasional. Mematangkan rasionalitas politik masyarakat awam adalah tugas yang harus segera dituntaskan jika pemilu, juga kampanye, ingin berjalan secara sehat, rasional, demokratis, serta memberikan hasil PILKADA yang berwibawa dan dapat dipercaya. Walaupun masih perlu diuji hasilnya, voter education jelas merupakan cara memintarkan pemilih yang penting dilakukan.
Kedua, janji elite politik yang tidak rasional dan mudah terprovokasi. Tidak jarang, kekerasan di tingkat bawah justru dijadikan instrumen politik sehingga meluapnya emosi massa tidak lepas dari skenario pihak tertentu, yang tidak lain bertujuan agar ambisi politiknya terwujudkan dengan cara-cara yang tidak bertanggung jawab. Dengan melihat realitas semacam ini, elite politik tidak justru berperan mengajak massa agar dapat berfikir secara lebih sehat dan rasional. Mereka lebih memanfaatkan emosi massa itu secara instan agar dapat mendulang suara yang banyak dalam waktu relatif singkat. Ini artinya, sekalipun voter education serta upaya-upaya lain untuk menyadarkan pemilih marak dilakukan di mana-mana, namun jika itikad baik dari para elite tidak lahir, maka massa kampanye akan senantiasa terlelap dalam ciri emosionalnya itu, bahkan menjadi lebih memprihatinkan.
Ketiga, apatisme masyarakat terhadap situasi politik dibuktikan dengan kejenuhan mereka mendengar janji-janji palsu, Di pihak yang berbeda, ada yang memanfaatkan apatisme masyarakat itu, dengan tidak lagi mengumbar janji-janji dalam mempengaruhi massa. Sayangnya, cara mereka lebih tidak mendidik lagi, misalnya dengan menghadirkan iming-iming sayembara berhadiah, atraksi massa, pesta dangdut, bagi-bagi insentif kampanye, dan beragam model lainnya. Hal itu sebenarnya tidak sepenuhnya negatif, namun jika hanya diniatkan untuk mengeruk massa, maka pendidikan politik (political education) menjadi sulit untuk didapatkan oleh rakyat.
Melihat realitas politik yang membingungkan itu, dapat ditangkap dua sisi mata uang yang saling merajut benang ketidakdewasaan politik bangsa kita. Di satu sisi, masyarakat masih tidak rasional dan mudah terprovokasi. Di sisi lain, elite politik mabuk kekuasaan sehingga memanfaatkan karakter masyarakat itu untuk memprovokasi massa. Dua pihak itu sama-sama terlena dengan aktivitasnya masing-masing. Rakyat apatis terhadap politik, sedangkan para elite gemar mempolitisasi.
Dari sinilah, peran pers, lembaga swadaya masayarakat (LSM), intelektual, akademisi, dan elemen-elemen lainnya yang bebas dari kepentingan politik jangka pendek, perlu lebih berpikir kritis dan bertindak progresif dalam membenahi persoalan itu. Menggerakkan genderang perlawanan terhadap politisi busuk, menyadarkan masyarakat agar lebih cerdas dalam menghadapi Pilkada, mengusung gerakan moral serta membangun opini publik yang memihak perbaikan kondisi bangsa, adalah tugas berat yang harus senantiasa diupayakan. Melalui cara-cara semacam itulah, kita bisa benar-benar berharap agar kampanye politik dapat berjalan secara sehat dan rasional, dan pada gilirannya pemilu dapat memberikan hasil yang dicita-citakan bangsa ini.
            Kecenderungan masyarakat Flores Timur pada PILKADA mendatang, masyarakat mulai menyadari betapa penting menentukan seorang figur publik (Bupati) Flores Timur lima tahun mendatang, wujud partisipasi aktif dari masyarakat dalam PILKADA inilah sangat menentukan wajah Flores Timur kedepan, jika dibandingkan PILKADA di Jawa Tengah tingkat golongan putihlah (Golput)  yang memenangkan PILKADA beberapa waktu yang seperti yang dilangsirkan oleh Harian KURSOR edisi senin 23 juni 2008 melalui Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dimana Golput pada PILKADA mencapai 45,25 % dari total suara yang masuk, hal ini menunjukan bahwa masyarakat di Jawa Tengah dapat  dijadikan salah satu indikator bahwa sebagian mayarakat di Jawa Tengah tidak mulai mempercayai seorang figur publik yang bisa mengatasi segala persoalan yang dihadapi oleh masyarakat setempat. Bisa diduga masyarakat Flores Timur mempunyai kecenderungan yang sama pada PILKADA Flores Timur nantinya, karena tidak percaya akan janji-janji manis saat kampanye, namun ketika duduk dikursi empuk lupa akan segala bahkan kebijakan sangat merugikan masyarakat.
Semoga PILKADA Flores Timur dapat menghasilkan pemimpin yang arif dan bijaksana yang dapat mengayomi masyarakat Flores Timur pada Umumnya.
*) Penulis adalah

Warga Flores Timur yang tinggal di Kupang

*) Staf Ngajar SMA Negeri 5 Kupang


Tidak ada komentar:

Posting Komentar